Peran Kurikulum Merdeka di Zaman Now

Opinaun644 Views
banner 468x60

Kurikulum K-13 belum berjalan secara maksimal. Kini Kurikulum Merdeka datang lagi. Dimengerti dari arti merdeka maka kurikulum ini bisa dipahami sebagai Kurikulum yang memerdekakan pendidik dan para peserta pendidik untuk secara bebas meng- update dan mengakses data serta buku referensi untuk menunjang kemajuan dalam berpendidikan demi menghasilkan out put yang unggul. Out put yang unggul adalah out put yang diandalkan dan memiliki daya saing di tengah derasnya kemajuan dunia hari ini.

Perubahan kurikulum yang senantiasa bergulir bersama dengan pergantian rezim pemerintahan adalah cara lain untuk beradaptasi dengan kemajuan dunia. Dunia sekarang sangat laju dalam pelbagai aspek kehidupan yang tak bisa ditunggu-tunggu. Dunia dengan segala tawarannya berotasi cepat dan tak terhentikan. Manusia sebagai makluk sosial juga turut berandil dan berubah di dalamnya.

banner 336x280

Hadirnya kurikulum merdeka di seluruh pelosok tanah air adalah cara baru yang ditawarkan oleh Mendiknas untuk mengkondisikan bentuk dan cara pembelajaran yang tepat sasar sesuai perkembangan dunia digital hari ini.
Manusia Indonesia adalah manusia yang minat bacanya sangat rendah sehingga untuk menghasilkan satu modul yang bagus mesti mencari buku sumber dari segala tempat.

Namun masih saja banyak kesulitan yang dialami oleh sekolah-sekolah di daerah pelosok Indonesia. Masih banyak daerah di Indonesia yang belum terjangkau oleh sinyal untuk akses media-media digital. Misalnya listrik yang nyalanya tidak lancar dan juga belum adanya tower untuk menghubungkan jaringan internet. Ini adalah kendala utama yang dialami oleh banyak sekolah di pelosok-pelosok Indonesia.

Lebih dari itu masih banyak peserta didik yang belum memiliki HP Android untuk terhubung ke Google pembelajaran. Inilah kesulitan utama yang dialami oleh para guru dan para siswa di wilayah-wilayah pelosok Indonesia pada umumnya.

Berhadapan dengan persoalan ini maka apa yang dilakukan oleh Mendiknas RI dan jajarannya demi meminimalisir realitas suram ini? Segala kekukurangan dan keterbatasan dalam memeraktekkan Kurikulum Merdeka di seluruh wilayah negeri adalah kecerobohon yang dilakukan oleh Mendiknas bersama teamnya.

Sebenarnya hal pertama yang dilakukan oleh Mendiknas adalah melakukan observasi dan melihat dari dekat tentang situasi-situasi pendidikan yang sedang berjalan di daerah-daerah terpencil. Dengan tujuan untuk mendiagnosa segala kepincangan yang dalami oleh sekolah-sekolah di wilayah pedalaman.

Setelah melewati observasi yang matang baru diuji coba kurikulum merdeka sehingga darinya dapat diketahui secara pasti akan jenis kemerdekaan apa yang akan didapat oleh para guru dan para siswa dalam praktik selanjutnya.

Jika dilakukan observasi yang matang secara baik sedari awal maka tidak ada kendala karena segala ketidakmungkinan dalam praktik Kurikulum merdeka akan teratasi.

Secara pribadi saya melihat adanya kepincangan dalam menerapkan Kurikulum Merdeka selama ini. Banyak sekolah yang belum bisa menerapkannya karena masih mengalami kekurangan fasilitas dalam mengakses materi dan lain sebagainya. Sehingga berhadapan dengan persoalan ini pemerintah mesti bijaksana dalam menerapkan Kurikulum Merdeka.

Tujuan Kurikulum merdeka untuk memerdekakan para guru dan para siswa dalam aktivitas pembelajaran. Namun dalam pelaksanaannya hampir seluruh sekolah di Indonesia sudah menerapkan walaupun masih dalam aneka keterbatasan. Lantas apa upaya Mendiknas untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dialami oleh sekolah-sekolah di daerah pelosok selama ini?

Pertama, Mendiknas bersama team harus lebih dahulu membenahi segala kekurangan yang ada di seluruh pelosok negeri. Setelah terpenuhi segala fasilitas dan sarananya maka mulai diberlakukan Kurikulum Merdeka untuk seluruh negeri.

Tidak bisa secara dini memberlakukan Kurikulum Merdeka tanpa memperhatikan segala fasilitasnya terlebih dahulu. Maka di sini seolah mendiknas membiarkan kepincangan terjadi di tengah segala kekurangan yang dialami sekolah-sekolah di wilayah-wilayah pedalaman Indonesia.
Kedua, Mesti adanya komunikasi yang efektif Mendiknas dengan para kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga di tingkat Provinsi dan daerah untuk mengetahui secara pasti akan segala kesiapan fasilitas dan sarana untuk memberlakukan Kurikulum Merdeka. Merdeka mesti bergaung dari akar rumput bukan bergaung dari pusat Jakarta ke seluruh pelosok.

Jika hanya menjadikan daerah Jakarta sebagai standar untuk memberlakukan Kurikulum Merdeka maka itu sangatlah tidak obyektif. Sehingga pada titik ini perlu ditinjau kembali penerapan Kurikulum Merdeka yang sudah dan sedang dijalani selama ini.

Ketiga, Para guru mesti bersatu dalam menyuarakan segala kekurangan yang ada di sekolahnya masing-masing kepada Mendiknas. Artinya segala aspirasi yang berhubungan dengan kekurangan sarana dan fasilitas mesti disampaikan secara terbuka agar ditindaklanjuti dan diberi respon positif oleh Mendiknas untuk mengatasi persoalan kekurangan yang ada. Karena tanpa menyelesaikan persoalan terlebih dahulu maka Kurikulum Merdeka tidak berjalan sesuai dengan target dari Mendiknas dan team selama ini.

Semoga tawaran tiga hal urgensitas itu menolong Mendiknas bersama teamnya untuk menerapkan kurikulummerdeka secara merdeka. Lebih dari itu menolong para guru dan siswa untuk sama-sama merdeka dalam mengikuti program penerapan Kurikulum merdeka. (**)

Oleh: Yohanes Mau
Peminat Masalah Pendidikan.
Tinggal di Tambolaka, Sumba Barat Daya.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *