Mengembalikan Keharmonisan Manusia dan Semesta

Opinaun1499 Views
banner 468x60

Entahlah kenapa situasi semesta hari ini semakin hari semakin tak menentu. Musim hujan yang pada tahun-tahun sebelumnya terjadi tepat pada musimnya kini tak lagi seperti yang dulu. Lantas ada apakah dengan semesta hari ini? Mari kita tengok ke dalam dan selidiki kelukaan semesta oleh rakusnya manusia zaman kini. Krisis ekologi mendominasi alam hingga reaksi alam dan musimnya pun tidak terjadi sebagaimana mestinya.

Krisis ekologi mencerminkan tidak adanya keseimbangan hubungan manusia dengan alam yang sudah sangat parah. Pemanasan global, kepunahan spesies, polusi udara dan air, serta kerusakan ekosistem, menunjukkan adanya krisis mendasar dalam etika dan spiritualitas manusia (Gardner, 2010).

banner 336x280

Semesta kini sedang terluka, sakit dan tak tersembuhkan oleh karena rakus dan tamaknya manusia. Tiada lagi relasi yang harmonis antara manusia dan alam semesta. Semesta dijadikan sebagai sasaran empuk untuk melampiaskan segala hasrat duniawi tanpa adanya pemulihan kembali. Hutan-hutan lestari, sumber-sumber mata air tidak diperhatikan dengan baik sehingga debit air berkurang dan menyebabkan hutan yang gundul menjadikan tanah longsor. Terlihat luka di mana-mana. Semesta sedang terluka dan dunia sedang menangis.

Manusia, alam semesta dan Tuhan adalah satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan. Ketiga elemen ini memiliki korelasi yang tak terputuskan. Artinya di dalam melakonkan peran, ketiga elemen ini selalu bergantung satu sama lain. Tuhan menciptakan semesta sebagai ruang gerak segala yang hidup dan manusia sebagai rekan kerja dalam memelihara dan melestarikan keutuhan semesta ini agar tidak sakit hingga terluka. Namun dalam realitasnya semesta kini disakiti dan dilukai oleh manusia.

Manusia yang tampil sebagai rekan kerja Allah tidak memandang semesta sebagai saudara yang selalu saling membutuhkan dalam segala waktu dan musim. Manusia hanya berfokus pada kepuasan dan kenikmatan sementara. Kebahagiaan dan kegembiraan semesta dirampas hingga tak berdaya. Setiap tahun semesta berteriak dan menggugat realitas luka yang tak tersembuhkan. Namun di manakah hati manusia?

Betapa tegahnya hati manusia membiarkan semesta menangis tak terhentikan. Semesta sebagai ruang ekspresi manusia dicabik-cabik untuk kepentingan pribadi dan golongan. Teriakan minta tolong semesta tak terjawabkan. Masihkah manusia bertelinga, bermata, dan berhati?

Persoalan ekologi di tengah semesta maha luas terkini adalah luka yang mesti segera diobati. Luka semesta tidak boleh dibiarkan begitu saja. Luka ini harus segera diperban dengan jamahan sejuk cinta yang bersumber dari hati. Jika manusia masih bermata maka bisa melihat dan merasakan sakit yang sedang dialami oleh semesta terkini. Luka semesta adalah luka kita juga yang butuh balutan cinta untuk sembuh. Makah hal terbaik adalah mari kita tinggalkan sikap acuh-tak acuh terhadap semesta selama ini dan menjalin relasi yang harmonis agar napas hidup kita di tengah semesta ini masih tersambung hingga suatu saat nanti.

Dalam sidang pastoral Post Natal 2024 Keuskupan Ruteng, 7/1/2024, Dalam reksa pastoralnya memfokuskan prioritas pada ekologi integral. “Kita ingin memperjuangkan harmoni universal antara manusia dan makluk ciptaan serta antara segala makluk ciptaan yang hanya terjadi dalam harmoni dengan Sang Khalik. Bukan hanya manusia yang memuji Allah, tetapi biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak- sorai.”( Maz 96:11). Manusia dan segala makluk ciptaan dipanggil untuk mewujudkan persaudaraan universal sejagat.”, Demikian pemaparan materi dari RD. Ignasius F.Bora.

Situasi semesta terkini adalah luka. Luka dan rasa sakit yang tak tertahankan. Luka semesta adalah luka kita. Luka ini butuh kesembuhan. Maka manusia sebagai saudara semesta mesti meluangkan waktu untuk memulihkan kembali relasi yang telah putus oleh karena rakus dan tamak selama ini.

Keharmonisan cinta antara Manusia dan semesta hanya bisa terjadi apaibila manusia rendah hati untuk meminta maaf kepada alam dan merekonsiliasi relasi dengan menjamah setiap luka yang tercipta. Kesembuhan hanya bisa terjadi apabila ada kata maaf dan aksi untuk berdamai seperti yang dulu. Mengembalikan semesta dengan segala keutuhannya dan me-respectnya sebagai saudara yang selalu menapaskan kebaikan kepada segala makluk. Sehingga relasi harmonis sebagai persaudaraan universal tetap utuh dan tak terputuskan hingga selamanya. (**)

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *